[FR] GOWES PURA JAGATKARTA, BOGOR – 25 FEBUARI 2018

Gallery Kegiatan

Terima kasih kami ucapkan untuk semua teman-teman yang hadir pada acara Gowes Bareng kali ini. Khusus nya ke team Marshal Rombongan Mba Vera dan Eko.
Mohon maaf jika ada kekurangan dalam acara.

Berikut kami rangkum kesan dan Kesan dari teman-teman dalam acara gowes ini.

(bersambung)

Review By Shinta Indriyanti

Bagian pertama
Tanjakan Demit untuk Pembuka

Naik lagi gowes lagi … masih naik lagi setelah istirahat …gowes lagi … istirahat … naik lagi … gowes lagi … seolah tiada ujung …aaaach baru kali ini saya ikut gowes miring yang dikoordinir oleh Jakseli hari Minggu, 25 Feb 2018. Bersama teman-teman VVD Depok, kami berombongan naik komuter menuju Bogor.

Penasaran dengan motivasi beberapa teman yang senang gowes miring. “Miring” artinya “tanjakan” saat saya meng-iyakan ajakan om Ari dari Jakseli untuk hadir. Teman-teman Bogor sudah siap sedia menunggu di depan Taman Topi dekat Stasiun Bogor. Nte Fhe yang menjadi Marshal untuk “Gowes Miring”. Om Edhoy senior goweser Bogor memberikan tips sebelum gowes, “Jangan paksa diri, yang penting ritmenya dijaga. Kalau naik Tanjakan Demit, rasakan jantung, sebaiknya istirahat di pertengahan. Pastikan ritmenya sampai teratur, berhenti dulu…. baru lanjut kembali.” Om Redee berujar, kita ikut om Adhy Winawan (AW) saja.

Setelah gowes sekitar 30 menit meliuk-liuk lewati antrian awal macet pagi di Bogor. Kami tiba di ujung awal “Tanjakan Demit”. Alhasil belum tiba setengah perjalanan, roda depan sudah terangkat … “Hahahaha, ini dia,” saya tertawakan diri saya sendiri. Ternyata tanjakan 100 meter di awal sudah sangat menggoda iman. Tenaga pagi masih terkumpul, hanya saja melihat teman duduk di tepi jalan, membuat konsentrasi buyar … hati dan otak tidak sepaham, “Lanjut atau berhenti dulu?”. Mata memandang liukan jalur mengular dan pandangan jauh tinggi ke awan dan langit biru.

“Saya kan juga ada batas limitnya,” demikian komentar Om Rake saat ditanya mengapa gowes miring berulang kali. Sedangkan Om AW menjawab, “Proses-nya Nte…prosesnya itu loh!” Baru kali ini saya melihat wajah lelah dua sahabat gowes saya ini, jalan menaik dengan kemiringan maksimum 34% dan rata-rata 17.9%. Kemiringan diluar rata-rata desain tanjakan 10-12% pada umumnya. Saat saya balik ditanya, hanya komentar pendek “Capek!” sambil menghirup teh manis hangat buatan tangan Ceu Atie pemilik warung di puncak Tanjakan Demit. Perjuangan ternyata masih belum selesai. Beberapa sahabat gowes, siap untuk ke titik berikutnya. Apakah masih ada tanjakan lagi?

Bagian ke-2

Kaki Gunung Salak

Kaki Gunung Salak sangat erat kaitannya dengan Prabu Siliwangi dan kerajaan besarnya Sunda Galuh dengan ibukota Pakuwan Pajajaran pada kurun waktu 1357-1579. Hamparan berbukit di kaki Salaka yang diapit Ciliwung dan Cisadane terdapat puluhan situs-situs sejarah kerajaan Sunda Galuh. Selain Kampung Budaya Sindang Barang, ada Mata Air Jalatunda, Taman Sri Bagenda dan Batu Tapak di sekitar daerah yang kami lewati. Pura Parahyangan Agung Jagatkartha yang didirikan pada tahun 1995 diartikan “alam dewata suci sempurna.” Konon di tempat ini dulunya adalah petilasan Sang Prabu dan prajuritnya serta menjadi tempat moksa dimana jiwa dan raga mereka menghilang naik ke surga.

Saat kami gowes naik menuju ke Pura Jagatkartha, seakan tubuh kami makin menghujam ke bumi. Bergerak dari elevasi +374 menuju +775 m.dpl untuk jarak 9 km, putaran roda sepeda lipat 20” seperti menghasilkan langkah kecil dengan pandangan mata tertuju ke aspal di jalur roda-roda kami. Tidak berani mata memandang ke depan, tanjakan tinggi dan Gunung Salak di kejauhan seperti selalu bertanya apakah kamu sanggup. Om Sakti melewati tempat istirahat saya sambil berujar, “Sedikit-sedikit asal terus digowes.” Om Arief tersenyum-senyum kecil saat menjumpai turunan, hanya saja di balik rimbun pepohonan, tampak lagi tanjakan nan tinggi. Raut wajahnya pun berubah. “Jalur mengenaskan,” ujar Om Nardi.

Tampaknya bukan pembuktian diri …. Manusia menjalani kehidupan, semangat adalah api yang perlu terus dinyalakan. Om Rake, Om AW dan Om Didit melesat sampai tak tampak karena berhasil melewati bukit dan menghilang. Tampaknya tidak perlu dipikirkan lagi sudah berapa jauh dilalui dan berapa lama lagi harus ditempuh. Belajar dari tanjakan-tanjakan sebelumnya, kaki di pedal harus tetap diayun. Putaran kecil menjadi berarti dibandingkan menuntun sepeda yang beratnya seakan berlipat-lipat.

Tanjakan terakhir 500 m lagi menuju Pura Jagakartha, kaki mulai keram. Sesama pegowes mulai menyemangati. Iming-iming makan nasi sambal honje di depan pura menjadi semangat tambahan. Ya, benar sahabat-sahabat gowes saya di ujung sana yang menjadi semangat, sedikit lagi … akhirnya finish. “No pain no gain” … Rasa lelah dapat terjelaskan dengan segelas kopi di kala angin sejuk Gunung Salak berhembus. Om Eldy menyeruput kopinya dengan nikmat sebelum kami kembali pulang (sid, 25022018)

Tinggalkan Balasan

Comment
Name*
Mail*
Website*